say no to love: the review
July 22nd, 2008 by tessaintanya
Pagi ini, saya baru saja rampung membaca sebuah novel bergenre MetroPop keluaran Gramedia, yang saya beli pada jam istirahat makan siang kantor sekitar seminggu sebelumnya.
‘Say No to Love’, merupakan novel paling baru karya Wiwien Wintarto yang dirilis pada bulan September 2007 lalu.
Jujur, tadi pagi, saking serunya ingin menyelesaikan bab-bab akhir novel yang memiliki tebal 309 halaman ini, saya sampai hampir lupa berangkat kantor dan berimbas telat masuk. Untung saja, saya jago ngeles dan bikin alasan, sehingga ngga dimarahi Pak Boss (yang kebetulan hari ini juga datang terlambat) Hehehe… Lagi ‘bejo’ rupanya nasib saya hari ini! J
Kesan pertama membaca novel ini, cukup seru karena dialog serta penggunaan bahasa yang amat luwes oleh penulis, membuat kita mau tidak mau tersapu halaman demi halaman dengan cepat.
Alur cerita juga mengalir cukup baik, walau pada bab-bab awal saya sempat tersentak dengan plot yang langsung dibuat naik grafik emosinya. Meskipun selanjutnya cenderung stabil kembali, tanpa ada usaha untuk kembali mengangkat emosi pembaca, ‘setegang’ beberapa halaman awal yang penggambaran konfliknya cukup dramatis.
Secara singkat, novel ini berceritakan tentang pengalaman seorang gadis muda dalam meniti karir, tapi akhirnya malah menghasilkannya sebuah romansa cinta diantara dirinya dengan sang atasan yang memang masih seusia.
Wuaaaah, seandainya hal ini terjadi pada saya… (Ngarep *mode on*)
Pada dasarnya, saya jatuh cinta pada ide besar yang dipilih penulis untuk mengangkat dunia kerja gadis-gadis rookie yang seolah masih clueless dan optimis sekali menghadapi dunia kerja yang tidak selalu menyenangkan. Mungkin, sebagian besar karena kenyataan bahwa saat ini saya sedang melalui masa yang sama dengan karakter utama yang diberi nama cantik, Dewi Eriandari (dalam cerita kehidupan saya, minus the love story tentu! *damn*)
Hal lainnya yang telah membuat saya jatuh cinta adalah penggambaran penulis akan kota Semarang yang menjadi setting lokasi sebagian besar part cerita… Mendadak saya jadi kepingin balik berkunjung ke Semarang lagi. Sudah agak butek juga melihat kota Jakarta yang makin hari, makin penuh sesak, puanas serta hobby MACET (PARAHHHH).
Penggunaan bahasa Jawa disana-sini seputar dialog juga sempat membuat saya larut dalam gelak tawa tersendiri yang akhirnya malah sukses membuat saya tiba-tiba punya hasrat untuk mempelajari boso Jowo lebih lanjut. Sugeng Ndalu… Sugeng Dahar… hehehe.
Setelah selesai membaca dan sedikit mengkontemplasikannya sampai saat saya menuliskan review ini, saya berkesimpulan bahwa mungkin maksud yang ingin disampaikan penulis dalam karya kali ini adalah bahwa: kenyataannya dalam hidup ini memang ada beberapa hal yang datang secara effortless… Ngga perlu terlalu ‘berusaha banget’ untuk mendapatkannya, karena memang sudah ada dari sononya. Seperti chemistry dua karakter utama Dewi dan Wisnu yang langsung klop…
Mungkin penulis ingin menggaris-bawahi bahwa justru hal-hal seperti inilah yang harusnya kita perjuangkan. The easier things in life… Bukan malahan punya kegemaran baru ‘memperkeruh’ kehidupan sendiri dengan menciptakan drama-drama tidak penting…
Perkara cinta itu seharusnya sederhana, mudah dan tidak meribetkan para manusia-manusia yang terlibat didalamnya.
Simple…
As simple, as the sky is blue.